deindividuasi

mengapa orang sopan bisa jadi beringas di tengah konser

deindividuasi
I

Mari kita bayangkan seorang teman kantoran kita. Sebut saja namanya Dimas. Di hari kerja, Dimas adalah manusia paling sopan yang pernah kita kenal. Bicaranya lembut, bajunya selalu rapi, dan dia akan meminta maaf berkali-kali hanya karena tidak sengaja menyenggol bahu kita di depan mesin fotokopi. Namun, apa yang terjadi saat akhir pekan tiba dan kita menemaninya menonton konser musik rock atau metal? Di tengah lautan manusia, Dimas tiba-tiba berubah. Dia melompat, berteriak kegirangan, dan ikut berbenturan badan di tengah pusaran mosh pit tanpa rasa ragu sedikit pun. Sopan santun khas kantornya menguap begitu saja.

Pernahkah kita melihat transformasi ekstrem semacam ini? Atau mungkin, kita sendiri pernah mengalaminya? Perubahan drastis dari seseorang yang pendiam menjadi begitu beringas dan bebas di tengah kerumunan selalu memunculkan satu pertanyaan menarik. Ke mana perginya kesopanan itu? Apakah wajah kalem yang kita lihat sehari-hari hanyalah sebuah topeng belaka?

II

Untuk memahami misteri ini, kita perlu mundur sejenak ke abad ke-19. Seorang polymath asal Prancis bernama Gustave Le Bon pernah menulis buku klasik berjudul The Crowd: A Study of the Popular Mind. Le Bon menyadari satu hal yang fundamental: ketika manusia berkumpul dalam jumlah masif, kita berhenti menjadi individu. Kita melebur menjadi satu organisme baru yang disebut "kerumunan".

Dalam psikologi modern, fenomena lunturnya kesadaran diri saat berada di tengah massa ini punya nama resmi. Para ilmuwan menyebutnya sebagai deindividuation atau deindividuasi. Saat kita berada di tengah konser yang gelap, bising, dan sesak, otak kita mulai memproses informasi dengan cara yang berbeda. Identitas personal kita—pekerjaan kita, status sosial kita, hingga rasa malu kita—perlahan memudar. Kita merasa anonim. Dan ketika rasa anonimitas itu muncul, beban moral individu yang biasanya menahan perilaku kita sehari-hari ikut terangkat dari pundak. Tiba-tiba, berteriak sekeras-kerasnya tidak lagi terasa memalukan karena ribuan orang di sebelah kita melakukan hal yang sama.

III

Namun, mari kita berpikir kritis sejenak. Jika anonimitas di tengah kerumunan membuat kita kehilangan kendali diri, apakah itu berarti manusia pada dasarnya adalah makhluk liar yang hanya bisa dijinakkan oleh aturan sosial? Apakah deindividuasi adalah sebuah "glitch" atau kerusakan pada sistem moral otak kita?

Pertanyaan ini sempat membuat para psikolog di tahun 1970-an garuk-garuk kepala. Ada banyak eksperimen terkenal—seperti eksperimen permen Halloween oleh Edward Diener—yang menunjukkan bahwa orang yang wajahnya disembunyikan dalam kelompok cenderung lebih berani melanggar aturan. Seolah-olah, saat tidak ada yang tahu siapa kita, sisi gelap kita mengambil alih. Tetapi, jika deindividuasi hanya memunculkan sisi gelap, lalu mengapa kita juga bisa menangis terharu bersama-sama saat menyanyikan lagu balada di konser yang sama? Mengapa kerumunan yang sama bisa saling tolong-menolong saat ada penonton yang jatuh pingsan? Pasti ada sebuah saklar rahasia di kepala kita yang belum sepenuhnya kita pahami.

IV

Inilah momen di mana sains keras (hard science) dan ilmu saraf (neuroscience) memberikan jawaban yang memukau. Ternyata, saat deindividuasi terjadi, kita bukannya kehilangan identitas moral kita. Otak kita justru sedang melakukan proses shifting atau perpindahan identitas.

Mari kita intip apa yang terjadi di dalam tempurung kepala kita. Bagian otak yang bernama prefrontal cortex—area yang bertugas memikirkan konsekuensi jangka panjang dan menjaga norma sosial—mengalami penurunan aktivitas. Di saat bersamaan, kerumunan yang bernyanyi dan bergerak seirama memicu lonjakan dopamin dan oxytocin di otak kita. Ya, oxytocin adalah hormon pelukan, hormon cinta. Hormon ini membuat kita merasa sangat terikat dengan orang-orang di sekitar kita, menciptakan mentalitas "kita melawan dunia".

Menurut teori Social Identity Model of Deindividuation Effects (SIDE), di tengah konser, kita tidak menjadi monster yang lepas kendali. Kita hanya membuang identitas "Saya" dan menggantinya dengan identitas "Kita". Dimas si orang kantoran tidak melanggar aturan; dia hanya tunduk pada aturan baru yang berlaku di kerumunan tersebut. Jika norma kerumunan saat itu adalah melompat dan berbenturan di mosh pit, maka otak Dimas akan menganggap perilaku beringas itu sebagai tindakan yang paling tepat dan adaptif. Sebaliknya, jika kerumunan itu sedang mengheningkan cipta, Dimas akan menjadi manusia paling hening di sana. Kita berubah menjadi bunglon sosial secara instan.

V

Pada akhirnya, deindividuasi bukanlah sebuah kelemahan psikologis. Fenomena ini adalah warisan evolusi yang brilian dari nenek moyang kita agar bisa bertahan hidup dengan cara bergerak sebagai satu kesatuan kelompok. Ya, fenomena ini memang ibarat pedang bermata dua. Di satu sisi, ia bisa menjelaskan mengapa kerumunan manusia bisa memicu kerusuhan yang merusak. Namun di sisi lain, mekanisme otak yang sama inilah yang memberikan kita pengalaman emosional yang luar biasa magis.

Saat kita berada di konser, melepaskan gelar, jabatan, dan gengsi, kita sedang merayakan sisi kemanusiaan kita yang paling murni: kebutuhan untuk terhubung dan melebur dengan sesama. Jadi, besok-besok jika teman-teman melihat rekan kerja yang kalem tiba-tiba kesetanan saat lagu favoritnya dimainkan di festival musik, jangan buru-buru menghakiminya. Tersenyumlah, karena saat itu, otak mereka sedang melakukan tugasnya dengan sempurna. Mereka sedang kembali pada akar biologis kita, menikmati kebebasan mutlak di mana "aku" telah tiada, dan yang tersisa hanyalah "kita".